Sekjend Lingkar Trainer Muda Indonesia

LTMI merupakan sebuah komunitas dibawah naungan CerdasMulia Institute yang bergerak dalam bidang pembangunan diri. Sejak tanggal 1 Maret 2015, LTMI resmi di launching dan Adit mendapat amanah sebagai Sekjend LTMI

Semangat Menebar Inspirasi

Mempunyai bakat dalam bidang MC serta public speaking, membuat Adit menjadikan dunia training sebagai media menyalurkan hobi dan bakatnya disamping pekerjaannya.

Fasilitator Yayasan Aids Indonesia

Adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam pencegahan penyebaran virus HIV/AIDS yang dipelopori oleh YAIDS di daerah DKI Jakarta.

Fasilitator Training PT.Kubik Kreasi SisiLain

Adalah sebuah lembaga training profesional yang dimotori oleh Jamil Azzaini, yang juga merupakan idola dari Adit

Aparatur Sipil Negara Lemigas

Adit merupakan salah satu Aparatur Sipil Negara sebagai Peneliti Pertama pada Lembaga Minyak dan Gas dibawah naungan Kementrian ESDM

Kamis, 01 September 2016

Melawan Keterbatasan



Puji syukur saya panjatkan kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, Dzat Yang Maha Segala. Berkat kekuatan dan izin-Nya lah saya, bahkan kita semua bisa menjalani kehidupan di dunia ini.
Setelah hampir sebulan saya tidak menulis, hari ini saya mulai kembali mengumpulkan semangat untuk bisa menulis kembali. Semoga apa yang saya tulis ini dapat bermanfaat, bagi saya sendiri maupun bagi pembaca sekalian.
  
Mengawali Bulan September di tahun 2016, saya bersama istri berkesempatan untuk menghadiri Gala Premier salah satu film dokumenter yang dibuat oleh seseorang bersama timnya yang kami anggap sebagai guru kami, walaupun saya secara pribadi belum pernah berinteraksi secara langsung dengannya, Kang Rendy Saputra.

Pengalaman luar biasa dapat belajar banyak darinya mengenai arti kehidupan. Mengenai pentingnya menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan yang ada. Mengapa saya dapat mengatakan demikian? Mungkin sudah banyak yang mengetahui profil tentang dirinya. Kesibukan apa yang sekarang dijalani olehnya. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kang Rendy yang menjalani pendidikan di salah satu perguruan ternama di Bandung, ITB, di jurusan yang merupakan salah satu favorit disana, Teknik Perminyakan. Tapi kalau kita semua mengetahui, saat ini kesibukannya jauh dari kata tentang dunia migas. Saat ini, kesibukannya adalah sebagai trainer dan menjadi CEO dari salah satu brand busana muslim di Indonesia.

Terdengar aneh bukan? Bagi saya secara pribadi, saya merasa sangat kaget ketika mendengar hal itu. Kok bisa, mengenyam pendidikan di teknik perminyakan, tapi sekarang sibuk di dunia public speaking dan busana.

Yak, beliau tidak menyelesaikan kuliah yang dijalaninya. Beliau memutuskan keluar dari kuliahnya, dan memilih jalurnya sendiri dengan status lulusan SMA.

Di zaman sekarang ini, lulusan SMP, SMA bisa kerja apa? Bukankah kebanyakan dari perusahaan memakai jasa orang-orang yang lulus dari perguruan tinggi? Hoho. Bisa jadi itu ketakutan dari kebanyakan orang sekarang ini. Tapi tidak untuk dirinya. Percaya atau tidak, seorang lulusan SMA dibayar cukup tinggi untuk memimpin perusahaan fashion, dibayar cukup tinggi untuk berbicara di depan orang banyak.

Beliau juga belajar banyak dari owner tempat dia bekerja, Bunda Tika. Berawal dari hanya menjual dua kodi baju, hingga saat ini bisa menjual kurang lebih 300.000 busana muslim. Bagi sebagian orang yang baru mengenal beliau mungkin akan berkata, “Enak, Kang Rendy link-nya banyak. Enak kang Rendy xxx. Enak Kang Rendy yyy” . Iya, itu setelah sekarang kita melihat dirinya. Tapi dulu? Hampir semua pengusaha sukses pasti berawal dari jatuh bangun, sama seperti dirinya.

Saya belajar banyak darinya.

Bahwa kelemahan kita termasuk saya prbadi adalah tidak mampu melawan keterbatasan yang ada. Kita seringkali ketika dihadapkan pada suatu masalah lebih sering mengeluh dibanding bergerak. Kita seringkali hanya diam, atau bahkan lari dari masalah yang ada.

Dikasih uang lima ratus ribu rupiah, bingung mau bisnis apa, akhirnya mikir ga jalan-jalan. Merasa bahwa bisnis harus modal besar. Dikasih kesempatan untuk bisa sharing di depan banyak orang, pusing karena ga pernah ngomong di depan banyak orang, akhirnya memutuskan ga diambil kesempatan itu.

Saya kembali belajar, bahwa sejatinya orang sukses itu adalah orang yang berani melangkah, bukan hanya berdiam diri, merenung, lama mikir yang akhirnya malah ga jalan sama sekali.

Sahabat, saya belajar, sahabat pun belajar. Hingga akhirnya kita benar-benar bisa meraih kesuksesan seperti yang kita impikan bersama. Melawan keterbatasan menjadi salah satu kunci untuk kita meraih kesuksesan tersebut.

Semangat. Bismillah . . .

Minggu, 07 Agustus 2016

Jangan Takut Untuk Menikah Muda

Betapa bersyukurnya diri ini karena memiliki istri yang satu visi dalam menjalani kehidupan ini. Dan betapa bersyukurnya diri ini karena Allah benar-benar mempertemukan diri ini dengan seorang wanita yang bisa mengisi kekurangan yang diri ini miliki. Janji Allah itu benar sekali bahwasanya jodoh kita merupakan cerminan dari diri kita. Dan ketika saya melihat istri saya, ternyata kami tidak jauh berbeda, hehe.

Minggu pagi tepatnya tanggal 7 Agustus 2016, saya bersama istri mengendarai sepeda motor kami menuju Kantor Balaikota Depok untuk mengikuti acara seminar parenting yang diisi oleh salah satu trainer yang memang terfokus pada bidang ini. Ketika istri saya menawarkan apakah saya ingin ikut acara ini, tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan tawarannya.

Saya dulu merupakan tipe orang yang baru belajar ketika sesuatu terjadi atau sudah mendekati waktunya. Namun saya menyadari jika belajar untuk mempersiapkan sesuatu yang nanti akan kita jalani jauh lebih penting. Agar kita mengetahui harus berbuat seperti apa nantinya, kalau perlu merancang desain seperti apa yang akan kita gunakan.

Saya merupakan orang yang menikah di usia 24 tahun sementara istri saya kala itu berusia 19 tahun. Saat ini usia pernikahan kami telah berusia 1 tahun sehingga usia kami pun bertambah pula 1 tahun, saya 25, istri saya 20 tahun. Di usia saya yang sebenarnya cukup matang untuk menikah, namun jika saya berpikir lebih jauh lagi saya masih banyak kekurangan, terutama dalam urusan berumahtangga. Karena itu ketika istri saya menawarkan seminar parenting tersebut langsung saya terima.

Menikah di usia muda haruslah memiliki kekuatan mental yang tinggi. Bagaimana tidak, pada saat orang-orang bermain, berbisnis, bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya, mereka-mereka memilih untuk melakukan hal itu untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga pasangannya. Bukan lagi hanya dirinya sendiri.

Jika kita menyaksikan di layar televisi, banyak sekali mereka yang menikah kemudian mereka cerai dalam usia pernikahan yang tidak lama. Ada juga yang sudah lama menikah namun kemudian cerai dengan berbagai alasan yang diutarakan.

Bagi kalangan muda, hal ini menjadi sangat rentan terjadi. Bayangkan, orang yang bisa jadi egonya masih sering tidak stabil, sudah harus menyeimbangankan ego untuk oranglain yang notabene akan menjadi pasangan hidup dan tinggal bersama dengan dirinya.

Dalam seminar tersebut, sang pemateri memberikan dua alasan mengapa pasangan-pasangan seringkali mengalami perceraian, tidak jarang dalam usia pernikahan yang masih muda

Tidak jelasnya visi & misi pernikahan

Penting bagi pasangan yang akan menikah untuk saling membuat proposal mengenai rencana yang ingin dilakukan setelah menikah. Bagikan kepada calon pasangan, agar sama-sama saling mengetahui apa yang wanita inginkan, apa yang pria inginkan.

Setelah hal itu dilakukan, yang selanjutnya wajib untuk dibicarakan adalah masalah visi dan misi dalam kehidupan berumahtangga. Ingin menjadi seperti apa keluarga itu. Apa yang menjadi nilai/value dalam rumahtangganya. Jika nilai/value belum ditemukan, minimal visi dan misi harus dijelaskan di awal agar ketika terjadi masalah setelah berumahtangga, ingat kembali visinya, insya Allah masalah akan bisa diselesaikan.

Bagi yang sudah menikah dan belum membuat visi dan misi dalam berumahtangga, saran saya silakan dibuat sekarang juga.

Tidak melakukan proses mendidik
di rumah
Ketika visi keluarga sudah dibuat, kehidupan kita dalam berumahtangga biasanya akan lebih terarah. Tapi terkadang masih ada juga yang mengalami perceraian karena hal yang lain, bisa jadi karena pertengkaran antara suami dan istri sehingga merasa tidak dapat lagi dipertahankan.

Dalam hal ini sangat penting bagi sepasang kekasih yang menjalani kehidupan bersama harus saling berinteraksi dan saling mengembangkan bakat yang dimiliki oleh masing-masing. Selain itu juga penting bagi suami untuk mendidik istrinya agar setelah menikah bukan malah menjadi terhambat potensinya.

Bukan berarti sang istri tidak boleh melakukan hal sama,  sang istri pun wajib untuk mendukung dan membantu suaminya untuk sama-sama mengembangkan potensi yang dimiliki oleh suaminya itu. Kemudian, menahan ego untuk tidak merasa paling pintar menjadi salah satu kunci agar rumah tangga tetap utuh.

Jika dua hal itu sudah kita lakukan, perasaan takut untuk menikah di usia muda pun bisa dihindari.


So, apa lagi yang harus ditakutkan?? Huehehehe . . .

Selasa, 02 Agustus 2016

Jangan Sampai Salah Pilih


Mencari pasangan hidup itu merupakan satu proses yang sangat menyenangkan untuk dijalani dalam kehidupan ini. Kalau saja kita mengingat-ingat, khususnya bagi yang sudah menikah, pasti terkadang akan tersenyum sendiri, malu sendiri, tidak jarang merasa seperti orang bodoh karena merasa melakukan berbagai keanehan di masa lalu.

Bagi yang belum menikah?? Tidak jauh berbeda dengan yang sudah menikah, yang belum menikah pun seringkali merasa berpikir bahwa apa yang dilakukan di masa lalu sampai saat itu adalah suatu keanehan yang unik baginya.

Setidaknya itulah yang saat ini saya rasakan ketika sudah menikah dan dulu saya pun merasakannya ketika sebelum menikah dengan wanita yang saya cintai. Pikiran-pikiran bodoh terkadang terlintas di benak atas apa yang pernah saya lakukan selama ini, hehe.

Pada saat saya menemani istri saya untuk mencari asuransi bagi dirinya saya mendapat kutipan yang menarik untuk dicermati bersama-sama bahwasanya kalau ada yang halal, kenapa harus pilih yang tidak jelas halal atau haramnya, atau bahkan kenapa ahrus memilih yang haram? . . .

Jika saja kutipan tersebut kita analogikan dalam kehidupan kita khususnya dalam mencari pasangan hidup, akan sangat menarik untuk dipikirkan bagi kita semua. Kenapa?? Karena menurut saya secara pribadi jika kita ingin menemukan pasangan hidup yang terbaik yang benar-benar nantinya Allah meridhoi kita, kenapa kita harus melakukan dengan cara yang tidak jelas baik buruknya atau malah sudah pasti tidak baik?

Pertanyaan kemudian datang kepada saya, “Maksudnya bagaimana sih itu?”

Kurang lebih seperti ini, mungkin dari kita semua sadar dan paham bahwa Allah menciptakan manusia itu berpasang-pasangan, bukan dari sesama jenis. Kemudian Allah juga menciptakan lelaki untuk melindungi perempuan. Tapi bagaimana mungkin ketika ternyata pasangan hidup ternyata berasal dari sesama jenis seperti yang ramai saat ini? Dan bagaimana mungkin para lelaki melindungi perempuan tapi ternyata yang terjadi adalah anggota tubuh perempuan disentuh-sentuh olehnya seperti yang kita sering saksikan juga tentunya.

I mean, apakah untuk mendapatkan seorang suami atau istri yang kita idam-idamkan kita harus berpacaran terlebih dahulu? Apakah untuk mendapatkan seorang suami atau istri kita harus mengatakan, “aku sayang kamu, aku cinta kamu, mau ga kamu jadi pacarku?” ?? Dan apakan untuk mendapatkan seorang suami atau istri seperti harapan, kita harus menggandeng tangannya, mencium keningnya, dan lain sebagainya dalam situasi sebenarnya kita bukanlah orang yang halal baginya???

Jika ada yang baik, kenapa harus yang buruk. Dan jika ada yang baik, kenapa harus memilih yang belum jelas kebaikan dan bisa jadi buruk. Sama persis dengan analogi ketika memilih asuransi yang tepat bagi diri kita.

Perempuan adalah makhluk mulia. Jangan kotori anggota tubuh kalian dengan hal yang tidak semestinya.

Lelaki diciptakan salah satunya adalah untuk melindungi perempuan. Jangan malah berbuat sebaliknya dengan mengotori dan melakukan hal yang tidak semestinya kepada perempuan.

Percaya atau tidak, akan lebih nikmat ketika proses menikah dilakukan dengan segala seuatu yang berbau kebaikan. Tidak percaya? Silakan dicoba saja yah . . .

Kalau Ada Yang Jelas, Kenapa Pilih Yang Lain?


Pagi ini saya diberi kesempatan untuk menemani istri tercinta mencari jenis asuransi jiwa yang sekiranya akan dia gunakan. Akhirnya istri saya memutuskan untuk menggunakan asuransi karena melihat saya yang menggunakan salah satu asuransi jiwa yang cukup dikenal di Indonesia. Saya sejujurnya tidak mau menggunakannya, namun karena orangtua saya yang dulu sebelum saya bekerja mendaftarkan saya sehingga saya harus melanjutkan dalam beberapa tahun lagi.

Setelah memutuskan ingin memilih asuransi yang berbasis syariah, tanpa disangka lokasi kantor perusahaan tersebut berada dekat dengan kantor saya bekerja. Langsung saya mohon izin untuk menemani istri tercinta menuju kantor tersebut yang berada di daerah kemacetan luar biasa.

Sampai disana kami disambut oleh seorang bapak yang masih cukup muda. Pada awalnya saya malas untuk bertanya-tanya disana, tapi karena saya ingin tahu dan saya melihat bapak tersebut adalah orang yang asik dan baik saya langsung banyak bertanya dibanding istri saya. Maklum saja, saya sangat senang untuk mencaritahu hal yang baru.

Saya bercerita bahwa saya sedang menggunakan asuransi jenis lain yang syariah juga namun perusahaan tersebut juga memiliki asuransi konvensional. Sehingga secara terus terang saya pun ragu apakah asuransi yang saya gunakan itu murni syariah ataukah seperti apa. Karena memang saya memiliki kewajiban untuk melanjutkan yang sudah dibayarkan oleh orangtua saya sejak 2009 lalu.

“Kalau ada halal, ada haram, nah ada juga diantara mereka itu namanya subhat. Sekarang ibarat ada restoran makan, ada makanan halal tapi juga jual makanan haram, terus dimasak di satu penggorengan. Dan kita gatau lagi dapurnya kayak apa. Bisa jadi, yang halal masaknya kecampur sama yang haram, kan bahaya. Nah itu namanya subhat. Haram sih engga, tapi kalau bisa jangan diambil, karena ulama juga menganjurkan yang murni halal aja kalau bisa mah”

Saya pun kemudian berpikir apa yang dikatakan oleh bapak tersebut benar adanya. Jika ada yang halal, kenapa harus cari yang setengah-setengah. Sedih sekali mendengar apa yang dikatakan oleh bapak itu. Sedih karena ternyata saya menggunakan jenis yang bisa dibilang subhat. Tapi tidak bisa dikatakan seperti itu juga karena saya harus mencari informasi terlebih dahulu, wehehehe.

Hanya saja kalau saya bisa mengatakan kepada sahabat semua, kalau bisa memilih yang sudah pasti syariah, pilihlah yang syariah. Karena sudah pasti baik. Saya pun jika boleh memilih, saya akan memilih yang sudah pasti syariah, bukan yang subhat, apalagi haram.


Sama seperti memilih makanan, kalau ada yang baik dan halal, kenapa harus memiih yang tidak baik?? J

Minggu, 31 Juli 2016

Rinduku Akan Silaturahim


Zaman sudah makin menggila. Siapa tidak sanggup bertahan, diri akan menjadi gila. Siapa yang tidak kuat mengikuti arus, diri akan menjadi lelah.

Zaman teknologi. Semua sudah dilakukan serba menggunakan teknologi. Gadget, PC, dan lain sebagainya. Kita masih ingat sekali bagaimana mungkin sekitar tahun 90-an, handphone baru saja booming-booming nya keluar. Itupun masih besar-besar. Kalau lagi berantem, pukul saja pakai handphone itu pasti lemas.

Sekarang? Aah, janganlah ditanya. Semua sudah serba smartphone. Telepon pintar. Telepon yang bisa memenuhi apa yang kita inginkan. Mulai dari berhubungan dengan oranglain yang berada jauh disana, sampai mencari teman baru pun bisa dilakukan. Selain itu juga, saya ingat sekali bagaimana pada dahulu kala ketika kita mencari sebuah alamat seringkali kita membawa peta yang besar, sekarang? Melalui handphone pun bisa dilacak.

Luar biasa sekali memang alat itu. Bahkan sudah bukan rahasia umum lagi bahwa hampir setiap minggu bisa jadi kita melihat keluaran handphone/smartphone terbaru dengan berbagai spesifikasi yang membuat orang yang melihatnya hanya ternganga. Canggih. Canggih sekali malahan.
Tidak jarang kita sering bosan atau kesal jika alat tersebut tertinggal di rumah atau rusak. Dunia seakan tidak asik lagi untuk dijalani pada hari itu. Seakan menjadi seperti orang bodoh yang tidak tahu harus melakukan hal apa.

Hal itulah yang membuat saya merasa sedih beberapa tahun terakhir ini. Bagaimana tidak sedih, saya suka menyaksikan sendiri orang-orang begitu asiknya bermain-main dengan smartphone yang dimilikinya sementara di depan, samping, belakangnya itu ada orang yang sedang mengajak untuk mengobrol. Jadi seakan-akan orang yang mengobrol tersebut merasa seperti orang bodoh karena ngobrol sendiri.

Bukan hanya itu. Saya sendiri pernah menyaksikan bagaimana tidak asiknya perjalanan untuk menyantap makan siang satu keluarga yang ketika sedang duduk untuk menunggu pesanan datang, semua asik denga smartphone mashing-masing. Bapaknya, ibunya, anaknya, semua sibuk memainkan smartphone yang ada dalam genggamannya.

Yaa Allah, apakah dengan majunya teknologi membuat kita menjadi lupa akan arti silaturahmi dengan sekitar? Membuat kita seperti orang aneh yang jika tidak memegang smartphone sebentar saja menjadi galau maksimal?

Saya rindu masa dimana saya mudah sekali menemukan orang yang ketika berkumpul tidak sibuk dengan handphonenya. Saya rindu masa dimana saya menyaksikan orang-orang tertawa riang ketika ada orang yang sedang berbicara di depannya dibanding tertawa riang pada layar kaca handphone yang dipegangnya.


Saya rindu masa-masa itu . . .

Minggu, 24 Juli 2016

Jangan Ditahan


Malam itu perjalanan kami terasa sangat nikmat. Bagaimana tidak, mata kami terlelap seakan tidak berdaya melawan lelah dan tidak enaknya badan kami setelah seharian melakukan aktivitas

Sang istri yg memang sibuk dari pagi dengan berbagai macam kesibukannya di rumah orangtua kami. Dan saya sendiri yg selama beberapa hari itu dilanda flu yg membuat badan ini panas dingin serta cairan yg tidak habis habis keluar dari hidung ini

Ya, malam itu istri saya harus kembali ke kota perantauannya dimana dia menempuh pendidikannya, Semarang, untuk melanjutkan kisahnya berjuang menyelesaikan tugas yg belum rampung dikerjakan pada saat Bulan 
Ramadhan. Revisi tugas Kerja Praktik yg saat seminar mendapat banyak koreksi dari dosen pembimbingnya
Sebenarnya bisa saja istri saya menyelesaikan di rumah kami, tapi khawatir untuk tidak fokus. Karena selain kesibukan untuk mendampingi orangtua kami di rumah, sang istri harus melakukan bimbingan kembali demi menerima apakah hasil revisi tugas yang dikerjakannya sudah tepat atau belum

Malam harinya saya pun mengantarkan istri saya ke stasiun Pasar Senen, Jakarta, ditemani oleh teman bapak saya karena saya takut tidak kuat untuk menyetir mobil akibat kondisi tubuh yg tidak fit

Di perjalanan, kami sudah merasakan sakit perut yg tidak enak. Kalau kata istri saya, "bay, ini tuh sakit banget. Kentut yang nyasar nih di perut". Entah ingin buang air besar atau hanya sekedar buang gas saja. Namun karena kami sangat lelah, akhirnya mata kami terpejam dengan rasa sakit perut yg tidak dirasakan kembali

Mata kami pun terbuka kembali ketika mobil yang disetir oleh teman bapak tiba di stasiun. Sesampainya di stasiun kami langsung bergegas menuju loket antrean untuk membeli tiket

Secara mendadak, perut saya dilanda rasa mulas yg sangat luar biasa. Seperti ingin keluar kotoran yg ada di perut ini. Tapi saya berusaha untuk menahannya. Istri saya dengan baik hati mengizinkan saya untuk duduk santai saja menunggunya

Tapi saking kami sangat kompaknya, tiba-tiba saja istri saya pun mendadak menghampiri saya secara tergesa-gesa, keluar dari antrian. Apa yang terjadi?? Ternyata, dia pun merasakan apa yang saya rasakan. Mulas luar biasa seakan ingin menangis tidak kuat menahannya

Beruntung kamar mandi di stasiun tersebut sudah jauh lebih baik, kami bergegas menuju kesana untuk melancarkan tugas kami. Tentunya di kamar mandi yang berbeda. Saya di pria, istri saya di toilet wanita

Setelah kami berdua keluar dari kamar mandi, kami tertawa bahagia seperti telah melepaskan apa yang menjadi beban hidup kami beberapa menit yang lalu. Luar biasa sekali rasanya

Kemudian saya berpikir, benar sekali kata Allah yg tertera dalam Al-Qur'an "maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?"

Salah satu kenikmatan itu ialah bisa buang air besar di tempat umum

Sesuatu yg harusnya dikeluarkan, keluarkanlah. Jangan ditahan jika memang tempat dan lokasi mewadai

Ga mau keluar sembarangan toh?? Hehe

Minggu, 10 Juli 2016

Terimakasih Romadhon 1437-H


Alhamdulillah. Puji syukur pantas kita semua panjatkan kepada Allah SWT karena berkat segala nikmat dan karunia yang diberikan oleh-Nya lah kita dapat menyelesaikan tugas dan kewajiban berpuasa selama Bulan Suci Romadhon 1437-H.

Tidak terasa sebulan berpuasa dapat saya lakukan tanpa batal sekalipun. Padahal saya ingat sekali ketika saya masih SMP, saya pasti ada saja hari dimana saya  batal berpuasa karena hal-hal tertentu, terutama ketika melakukan mudik ke kampung halaman orangtua saya di Cilacap dan Yogyakarta.

Puasa benar-benar membuat saya secara pribadi tersadar untuk melakukan pola hidup sehat yang belakangan ini mulai banyak digencarkan oleh banyak orang. Bagaimana tidak, di zaman yang serba modern ini sering sekali kita melakukan pola hidup yang kurang sehat. Entah dari makanan yang dimakan, minuman yang diminum, dan juga pola istirahat yang tidak teratur. Ditambah lagi semakin sempitnya waktu untuk berolahraga dikarenakan pekerjaan.

Tapi di Bulan Suci Romadhon 1437-H saya berusaha bagaimana saya berusaha untuk kembali berbenah diri mengenai hal itu. Makan tidak terlalu banyak, membuat bagaimana ketika makan perut tidak terlalu terasa kenyang. Wajar saja, ketika buka puasa kemudian makan berat, lalu dilanjutkan solat Isya dan tarawih berjamaah biasanya rasa kantuk akan melanda.

Puasa benar-benar mengajarkan kepada banyak hal. Salah satu yang lainnya yaitu mengingat bahwa harta yang kita miliki seluruhnya bukanlah milik kita. Karena kita dianjurkan untuk mengeluarkan zakat fitrah di akhir Bulan Romadhon. Zakat fitrah wajib untuk dikeluarkan untuk membersihkan harta kita dan diajarkan untuk berbagi kepada orang yang kurang mampu.

Saya pernah mendengar dalam salah satu ceramah saat solat tarawih bahwa barangsiapa yang tidak mengeluarkan zakat fitrah di akhir Bulan Suci Romadhon maka segala amal ibadah yang dilakukan di Bulan Romadhon akan menggantung diantara langit dan bumi. Karena itu sangat disayangkan ketika kita tidak membayar zakat fitrah. Selain menenangkan hati karena membantu oranglain, pahala pun didapatkan.

Sahabat, Bulan Suci Romadhon 1437-H memang sudah berakhir. Dia meninggalkan kita dengan segala amalan ibadah yang kita lakukan pada saat itu. Sekarang, tugas kita selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan semangat beribadah untuk kita lakukan di kehidupan kita sekarang. Tidak mudah mempertahankan hal itu. Kalau boleh saya bilang

“mau masuk neraka itu mudah, enak-enak lagi. Mau masuk surga itu tidaklah mudah, banyak tantangan. Tapi Allah menjanjikan bagi siapa yang kuat menahan dan dengan ikhlas melakukan yang Allah anjurkan, maka surgalah jaminannya”


Semangat sahabat. Semangat beribadah. Semangat berbagi. Semangat menahan hawa nafsu dari segala hal yang dilarang oleh Allah SWT . . .